Introduction

My Photo
Tak ada kata di dunia ini yang dapat mendefinisikan aku, kamu, dia dan mereka. Kau dan aku, satu hal yang sama adalah kita berdua, seorang manusia biasa. Manusia yang berjalan dalam ilusi jarak, awal, antara dan akhir dalam kefanaan. Aku tidak sempurna, mengingat kesempurnaan adalah kebohongan terbesar dunia. Aku disini, merogoh hidup untuk mencari alasan yang tepat agar tetap bersemangat. Dengan tulisanlah aku dapat menjadi diriku yang sebenarnya. Karena tulisan ini tidak lagi dikendarai oleh fikiran otak, namun aku mengendarai mereka dengan hati. Karena tulisanku bukanlah sekedar kereta kata-kata, namun mereka adalah luapan rasa dan silaturahmi dengan memori. Selama dunia masih fana, aku seorang Hawa untuk seorang Adam.

This Month's Phrase

Screwed once, okay. Screwed twice, try. Screwed thrice, actions. Screwed more, don't give a shit about it. Never ending emotions are restless. Tiara

Thursday, February 2, 2012

Dimensi Sebrang

Aku berdiri,
menatap matanya di sebrang.
Melirik kelopak lentik,
mengatup indah tiap detik.

Dia berdiri didepanku,
menatap dalam keheningan.
Bagai melirik hantu dimensi sebrang.
Tiap hembus diteliti,
berusaha terawang isi hati.

Entah kuasa mata hilang,
dan hembusan nafas mulai menggumpal.
Dijadikan itu tetesan bening,
yang membisukan dia yang di sebrang.
Lirikannya bertanya, "ada apa?"

Dia mulai merintih,
dengan nafas berat, tertatih.
Mengapa mataku meniru?
Pedih tiba dalam sekatup lentik,
lalu langit berdegup kelabuan.

Entah kuasa diri hilang,
nafas usang, tersentak tetesan air.
Berlomba dengan rasa,
kewarasan mengalahkan diri.

Langit mengikuti situasi.
Menangis dengan hembusan awan suram.
Sempatnya matahari bersembunyi,
dengan aku yang duduk terdiam.

Aku hanya menatap dirinya
yang sedang duduk di cermin.

Thursday, January 26, 2012

Letih Tak Kunjung Henti

Selamat Sore (GMT-7) teman-teman...

Maafkan diri hamba karena telah tidak lama menulis. Sekolah Victory Plus, memang adalah sekolah yang bagus, tetapi satu hal yang membuatnya tidak sebagus angan adalah... TUGAS.

Sekolah ini berbasis dua sistem pembelajaran luar negri. SD - SMP berbasis IB dan SMA berbasis O lvl. Untuk pindah dari IB ke O level membutuhkan masa transisi yaitu masa-masa kelas 10. Dan saya kawan-kawan... adalah seorang murid kelas 10, salah satu bagian dari Terzione (nama angkatan).

Tuhan, bantu hambamu...

Untuk O level, masa melahirkan stress sudah terlewati. IGCSE test yang diadakan waktu itu, sekitar tiga bulan yang lalu, antara Oktober atau November (gak inget). IGSCE pertama yang gue lalui adalah... fisika. Dan semirip-miripnya dengan materi nasional Indonesia, tetap saja... mereka membuat yang lebih sulit. Alhasil, dengan penuhnya semester test pada tahun lalu bulan November dan sebagainya, pembagian waktu untuk belajar tes Fisika ini terbatas. Sehingga sekarang nilai telah keluar, dan gue mendapat D, score 57. Seharusnya kalau dapet 60 masih dapet C ya Allahuakbar.

Setelah melahirkan benih stress, dia berkembang menjadi besar. Personal project dan Community service yang dituntut oleh sistem IB, salah satu kriteria untuk lulus kelas 10. Personal project gue, sangat merepotkan. Yaitu membuat sebuah novel, lalu edit, lalu publish dan akhirnya marketing. Pula harus bikin written report dan presentation untuk final assessment.

Neraka belum berakhir kawan, setelah personal project, masih harus dilakukan community service dimana kita membantu komunitas sosial yang ekonomi kurang mampu. Mungkin terdengar mudah, memang, saat melakukan akan mudah. Tapi tahap membuat proposal dan merencanakan adalah sebuah banjir bandang besar. Karena saat berdiskusi dengan kelas... yang ada hanya ocehan dari setiap sudut ruang yang menggema menjadi teriakan seorang guru kecil pembimbing kelas gue... Ms. Hevy.

Sekarang lagi minggu-minggunya sibuk sampai nanti tanggal 1 Februari. Minggu ini adalah minggu terakhir untuk bersiap siap untuk final assessment yang jatuh pada hari itu... 1 Februari. Tuhan... novel saya belum selesai di proofread oleh advisor (Ms. Tess) dan belum written report di cek juga. Tuhan, apakah hambaMu ini harus mencari proofreader lain? Mr. Young (Bule UK agak songong) bisa diminta bantuan kah? Tuhan beri aku petunjuk.

Juga menjadi panitia Spartacus (acara sekolah gue terbuka untuk umum, contact me for more info. Ada futsal, basket, art, dll) dan mencari sponsor. Allahuakbar..........

Dan hari ini, persis jaket angkatan jadi. Terzione, jaket merah keren, berslogan Domus Vindex dan Magnus. Tapi... kenapa ukuran S pada gak ada? Hany ada M sama L? Kenapa Tuhan... apa lagi cobaan yang harus aku urus?

Semoga semua ada jalan dan dapat diselesaikan yah...
Wish me luck kawan.
Maaf jarang post.

Salam Damai.

Friday, January 20, 2012

La Facade

Hari itu, Ms. Hakaraia (New Zeland, 36, Single) sedang berada dalam kelas 10 Advanced, English Literature. Membahas sebuah novel yang sebenarnya gue sendiri baru baca up to Bab 3. Yang seharusnya gue selesai sampai halaman 25. Akhirnya, pada opening test sebelum mulai kelas, gue membawa hasil nilai 0. Sebuah hal yang membuat kelas ini menarik adalah guru itu tersebut. Dia bisa dikata atheist, tapi tidak membawa orang berujung kepada hal itu. Dia tidak menarik viktim. Berhubung akhir-akhir ini gue suka filsafat metaphysics (theology) dan philosophy of mind, gue mulai melihat pertanyaan yang absurd maupun sesat -namun tidak menurut saya. Tapi ini cerita berbeda...

Pada hari ini, kelas Ms. Tess Hakaraia memberikan sebuah inspirasi besar untuk personal project yang saya harus selesaikan untuk meluluskan diri dari kurikulum IB. Yaitu, mengenai society and how average it is.

"Dividing society into 6 parts. 5% are very smart, 20% are penultimately smart, 25 % are okay smart, 25% are okay because to be here, you have to reach at least 100 IQ points. It means you graduate high school. 20 % aren't that good, 5% are ... sorry to say, stupid, but they have unique ideas. But what does society do? We wouldn't listen to the minority. We would only listen to the 50% of average majority. Society is being ruled by the average people. Now ask yourself, do you want to be average?"

Sesuatu yang membuat gue akhirnya terbangun pada pelajaran itu. Dia sebenarnya membuat sebuah statement point yang benar. Masyarakat telah di kontrol dengan kebanyakan orang rata-rata. Bukan hanya dari sisi IQ atau otak, tapi juga konsep pikiran dan perspektif atau pandangan terhadap hidup. Baik secara moral maupun non-moral seperti fashion dan lainnya. Banyak gue liat di tumblr, banyak teen girls, yang hipster dan anorexic hanya untuk fit in to the society. The society by means "the average 50% of the whole majority"

Dapat dikata, sebenarnya semua manusia, secara tidak disadari adalah orang yang munafik. Setiap hari bangun dari tempat tidur dan berdandan agar La Facade indah dan dapat menarik perhatian kumbang yang mencari bunga. Kita hanya bisa menjadi diri kita sendiri, hanya pada saat kita sendiri. Gue, bisa lepas penampilan dan bisa bebas jadi gue, hanya saat gue di kamar. Jujur, kalau keluar kamar, La Facade harus di pasang meski sedikit, di depan orang tua. Di depan mereka yang membesarkan saja sudah memasang 'topeng' dan di depan masyarakat, topeng itu semakin dieratkan oleh kita semua, sadar atau tidak.

Sekarang tanyalah pada dirimu sendiri. Apakah anda cukup berani untuk berdiri di sekerumunan orang yang duduk dan membawa tren baru yaitu berdiri melainkan duduk? Berbeda itu tidak apa. Kita lahir dengan hak asasi manusia, bebas dengan free will manusia bernafas. Dari situ, kita bebas menjadi apa yang kita mau. Jadilah 20% dan 5% orang unik tadi. Jadilah mereka yang di pandang aneh, karena sesungguhnya, keanehan itu adalah sebuah poin plus untuk diri anda.

Berbedalah,
hiraukan apa kata masyarakat.

Ignore what the average people say. Be abnormal.

Salam damai.

Wednesday, January 18, 2012

SOPA STRIKE



STOP PIPA AND SOPA NOW

JOIN THE STRIKE at http://americancensorship.org/

TWEET CRAZY WITH #STOPSOPA or #SOPASTRIKE

INTERNET FOR A BETTER FUTURE

Sunday, January 15, 2012

Philosophycal Question

Prove to me that you are not figments of my imaginations - Solipsist

reply: I do martial arts and spar on regular basis. It's very difficult to buy this philosophy when a fist meets my nose. Why would I let a figment of my imagination get away with that?

Answer: The solipsist might say pain is needed to appreciate pleasure. Or he might say that I've let my imagination run wild. Or he might say that I don't know why i would want to imagine receiving pain, but I imagined it. And that's that. Either way, the "person" who hit me in the nose is just a figment of my imagination.

Saturday, January 14, 2012

Perputaran

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Terkadang, pepatah itu sering disalahartikan oleh kita. Sebenarnya, tujuan kata itu adalah agar kita memotifasi diri sendiri untuk rajin menanam dan menjaga rumput kita sendiri. Tidak perlu melihat lalu mencuri, tidak perlu mengintip dan mencari kesalahan untuk diumbar. Bukan artinya kita melihat dengan rasa iri dan dengki tapi artinya kita menatap dan menganalisa bagaimana rumput mereka begitu hijau.

Rumputku kurang hijau dibanding dengan mereka. Dulu aku mengintip dengan iri karena mereka lebih bahagia dibanding aku. Ibuku sakit, papaku bankrut dan aku berlari ke asap rokok dan tenggelam dengannya. Aku melirik kanan dan kiri, melirik rumput di keluarga atas sana yang rumahnya diatas bukit dekat dengan awan. Aku menanjak terus gunung itu untuk mencapai rumah mereka dan yang aku lakukan hanyalah ber-iri ria.

Aku tersandung kembali ke rumputku. Aku tatap dan meratapi taman ini. Lalu aku tersentak. Suatu bisikan membangunkan hati untuk tidak lagi iri. Mengapa? Karena sadar atau tidak, untuk mencapai ke rumah mereka diatas, aku harus menanjak. Aku harus berusaha untuk melihat sebuah pemandangan indah diatas sana. Dan aku yakin yang mereka lakukan pula begini. Mereka bercocok tanam dengan rajin dan menyiram taman dengan taat sehingga semuanya indah. Mungkin, kadang hujan pun turun dengan lebat dan banjir melanda, tetapi mereka kembali bangkit.

Aku tak pernah sadar, betapa banyaknya waktu yang aku buang untuk melihat rumput mereka dengan iri. Aku tak pernah sadar betapa banyaknya waktu itu dapat aku perbuat untuk membelai rumputku sendiri. Aku telah membuang waktu dengan hati iri. Pula, ternyata, tidak ada perubahan yang aku dapat dari itu.

Mungkin rumput mereka lebih hijau dari rumputku, tapi aku tahu bahwa jika aku buang waktu di rumputku sendiri ketimbang berputar di rumput orang lain, rumputku akan lebih hijau. Aku yakin, jika aku fokus dengan rumputku sendiri, semuanya akan lebih baik. Meski dibutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi jika hati sabar, dia yang menanti akan mendapat yang terbaik.

Tidak ada yang instan, kelak aku yakin rumputku seperti mereka. Jika saatnya tiba, aku akan ke bawah gunung dan membantu mereka yang kurang hijau.

Semata-mata agar aku dapat melihat senyum bahagia mereka yang menyegarkan udara.

Thursday, January 12, 2012

Mawar

Hari ini adalah bulan ketiga kami bersama. Atas bawah, selama ini baik saja kami jalani. Meski dengan tersandung batu besar, tetapi kami saling menolong dan berjalan bersama lagi. Aku hari ini mendapatkan sesuatu yang takku bayangkan akan pernah akan aku dapatkan. Kau adalah seorang pertama yang memberiku ini. Terimakasih, dan aku berharap kau juga yang terakhir.

Aku mencintaimu,
baigaikan mencintai mawar.
Menggelegar memikat mata,
indah dibawah matahari.
Meneteskan air mata merah,
bukti cantik dirinya padaku.

Aku mencintaimu,
bagaikan mencintai mawar.
Dengan tusuk durinya,
kecil pedih, namun lekat.
Berdarah merah seperti kelopak,
Diobati indah,
kebas, sayat itu hilang.

Aku mencintaimu,
bagaikan mencintai mawar.
Sendiri berdiri diantara hijau.
Merah terang berani,
meski hijau berbisik fikiran.
Merah tak perduli disini,
tak kemana juga pergi.

Aku mencintaimu,
bagaikan mencintai mawar.
Pilihan memesona indra dunia,
lain dari mereka yang sama.
Mawar berduri,
namun pedih kebas dengan indah diri.

Cinta,
bagaikan sebuah mawar.
Warna indah cerminkan hati.
Merah, berbeda dari mereka.
Berduri tajam,
menyayat indra pedih.
Namun sayatan fana dilukis warna merah,
lalu mereka menjadi tiada.

Aku mencintaimu,
bagaikan mencintai mawar.
Karena mawar bercerita,
tentang kepedihan indah.