Introduction

My Photo
Tak ada kata di dunia ini yang dapat mendefinisikan aku, kamu, dia dan mereka. Kau dan aku, satu hal yang sama adalah kita berdua, seorang manusia biasa. Manusia yang berjalan dalam ilusi jarak, awal, antara dan akhir dalam kefanaan. Aku tidak sempurna, mengingat kesempurnaan adalah kebohongan terbesar dunia. Aku disini, merogoh hidup untuk mencari alasan yang tepat agar tetap bersemangat. Dengan tulisanlah aku dapat menjadi diriku yang sebenarnya. Karena tulisan ini tidak lagi dikendarai oleh fikiran otak, namun aku mengendarai mereka dengan hati. Karena tulisanku bukanlah sekedar kereta kata-kata, namun mereka adalah luapan rasa dan silaturahmi dengan memori. Selama dunia masih fana, aku seorang Hawa untuk seorang Adam.

This Month's Phrase

Screwed once, okay. Screwed twice, try. Screwed thrice, actions. Screwed more, don't give a shit about it. Never ending emotions are restless. Tiara

Saturday, January 14, 2012

Perputaran

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Terkadang, pepatah itu sering disalahartikan oleh kita. Sebenarnya, tujuan kata itu adalah agar kita memotifasi diri sendiri untuk rajin menanam dan menjaga rumput kita sendiri. Tidak perlu melihat lalu mencuri, tidak perlu mengintip dan mencari kesalahan untuk diumbar. Bukan artinya kita melihat dengan rasa iri dan dengki tapi artinya kita menatap dan menganalisa bagaimana rumput mereka begitu hijau.

Rumputku kurang hijau dibanding dengan mereka. Dulu aku mengintip dengan iri karena mereka lebih bahagia dibanding aku. Ibuku sakit, papaku bankrut dan aku berlari ke asap rokok dan tenggelam dengannya. Aku melirik kanan dan kiri, melirik rumput di keluarga atas sana yang rumahnya diatas bukit dekat dengan awan. Aku menanjak terus gunung itu untuk mencapai rumah mereka dan yang aku lakukan hanyalah ber-iri ria.

Aku tersandung kembali ke rumputku. Aku tatap dan meratapi taman ini. Lalu aku tersentak. Suatu bisikan membangunkan hati untuk tidak lagi iri. Mengapa? Karena sadar atau tidak, untuk mencapai ke rumah mereka diatas, aku harus menanjak. Aku harus berusaha untuk melihat sebuah pemandangan indah diatas sana. Dan aku yakin yang mereka lakukan pula begini. Mereka bercocok tanam dengan rajin dan menyiram taman dengan taat sehingga semuanya indah. Mungkin, kadang hujan pun turun dengan lebat dan banjir melanda, tetapi mereka kembali bangkit.

Aku tak pernah sadar, betapa banyaknya waktu yang aku buang untuk melihat rumput mereka dengan iri. Aku tak pernah sadar betapa banyaknya waktu itu dapat aku perbuat untuk membelai rumputku sendiri. Aku telah membuang waktu dengan hati iri. Pula, ternyata, tidak ada perubahan yang aku dapat dari itu.

Mungkin rumput mereka lebih hijau dari rumputku, tapi aku tahu bahwa jika aku buang waktu di rumputku sendiri ketimbang berputar di rumput orang lain, rumputku akan lebih hijau. Aku yakin, jika aku fokus dengan rumputku sendiri, semuanya akan lebih baik. Meski dibutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi jika hati sabar, dia yang menanti akan mendapat yang terbaik.

Tidak ada yang instan, kelak aku yakin rumputku seperti mereka. Jika saatnya tiba, aku akan ke bawah gunung dan membantu mereka yang kurang hijau.

Semata-mata agar aku dapat melihat senyum bahagia mereka yang menyegarkan udara.

0 comments: